Memandang langit kelabu di malam hari
cerahnya cahaya tak mampu gantikan gelap
teguk demi teguk minuman ini masuk ke
tubuhku
tak terasa hari menyambut pagi dan aku
belum tertidur
masih saja menatap kosong kearah atas sana
menanti pengharapan yang tak kunjung tiba
saatnya
akankah ini harapan palsu yang ku karang
untuk menenangkan hati?
Ataukah kenyataan yang sangat sulit untuk di raih ?
ah... aku tak tau, namun keyakinan dalam hati terlalu besar untuk di tutupi
walau dalam hati terdalam masih tersimpan
pertanyaan lama yang mengganjal
dengan sejuta bayangan indah yang berubah
menghitam
karna jalan tlah tertutup debu yang terus
menerpa
kini tersimpan asa pada sebuah cita-cita
yang masih coba untuk di gapai
dengan tangan bocah kecil yang masih
mencoba untuk berdiri
rasanya setinggi langit akan di gapai
dengan tubuh yang tak lebihdari semeter
namun jika saatnya tiba ku kan berlari dan
terbang memegang langit dengan tangan ini
tangan selama ini diremehkan dan di hina
orang
dengan kaki yang tertatih ku kan berjalan
dan disaatnya nanti ku mampu berlari.
Ku lanjutkan lamunanku hingga burung pipit
kecil mendekati
disampingku tergeletak sebungkus rokok mild
dan korek yang tak ku sentuh
masih terbungkus rapat sersegel plastik
teka terpikir lg untuk membukanya, hanya
orang tua dan kampung halaman yang tiba-tiba terpikir
terbersit tanya akan jadi apa aku jika
terus begini
ku raih handphone danku cari nomer mereka
hanya untuk sekedar mendengar omelan dan
tawa meraka yang sangat ku rindukan
orang tua hanya bisa menitip pesan tanpa
tau apa yang ku rasa
hanya aku dan Tuhan yang selalu bisa
bersama
mereka hanya tau ku disini menuju impian
dengan jalan dan tantangan yang
menyertainya
kegagalan dan masalah sudah menjadi
keseharian yang tak bisa terpisahkan dariku
juga anak rantau lainnya
bedanya aku masih berusaha berada pada
lingkaran keadaan yang ku atur sendiri
masih berusaha untuk menjaga batas sampai
mana aku akan melangkah maju
terkadang iri pada meraka yang bisa hidup
tanpa berpikir beban yang d tanggung orang tua
namun ku tak bisa, rasa percayaan yang di
bebankan terlalu mahal untuk ku buang di sini
mungkin suatu saat, ketika mataku tertutup
dari kebaikan hal itu akan terjadi
namun tidak sekarang, tidak disini, dan
tidak begini
akhirnya kuputuskan untuk bertanya dan
berkomunikasi dengan kedua orangtuaku, untuk bersama berpikir masa depanku.
I Made Ronny Agastiya
I Made Ronny Agastiya
yogyakarta, 17 mei 2012
kamar kost (jalan kusuma, GK4/834 kel.
Baciro YOGYAKARTA 55225)