I Made Roni Agastiya, begitu nama yang di beri oleh orang tuaku,. Terlahir sebagai anak bungsu dari 2 bersaudara yang keduanya putra menjadikanku anak yang manja pada orang tua. Bapakku adalah seorang yang serba bisa, mulai dari bekerja di sebuah LSM yang di rintisnya semenjak tahun 80an hingga membenahi instalasi listrik dan pekerjaan tukang kayu., bahkan bapakku juga bekerja di sawah dan kebun setiap akhir pekan. Mamaku tak kalah hebat, bukan karena ia pejabat, tapi karena ia bisa tersenyum. Mamaku adalah seorang PNS yang mengabdikan dirinya di sebuah desa kecil di Sulawesi tenggara. Yang membuatkyu salut terhadap bapak dan mamaku adalah kemampuan mereka untuk berdamai dengan dirinya, bapakku yang terlahir di bali masih memegang teguh keepercayaan HINDU sedangkan mamaku yang berasal dari Nusa Tenggara Timur setia memeluk keyakinan KRISTEN PROTESTAN. Ini awal penjajakan hidup yang sangat sulit ku alami, sejak kecil aku selalu mengikuti kedua tatacara ibadah kedua kubu yang tak mungkin 100% bisa di gabungkan ini.
Tahun demi tahun berlalu tanpa ada masalah dengan AGAMA yang ku anut, setiap kali mengisi formulir yang menyertakan agama selalu saja di kosongkan. Masa itu aku tak memusingkan masalah itu, yang ada dalam pikiranku hanya bagaimana aku bisa hidup tentram di antara perbedaan orang tuaku. Ketika menginjak usia 10 tahun, tepatnya kelas 6 SD aku mulai merasakan perdebatan panjang dalam hatiku yang sulit di jawab. Ku coba tanyakan pada kedua orang tuaku, namun aku enggan dan akhirnya kupendam sendiri.
Pada suatu hari sabtu aku meminta izin bapakku untuk mengikuti gereja pada keesokah harinya, bapak mengizinkan namun dengan nada yang kurang enak dan membuatku seperti terpukul. Namun keesokan harinya aku tetap mengikuti mama ke gereja yang berjarak ±60KM dari rumah kami yang berada di desa. Walau hari itu aku pergi gereja namun aku belum menemukan TUHAN dalam hatiku, aku masih saja mengikuti kedua keyakinan ini. Hatiku mulai mantap ketika aku mulai membuka lembar demi lembar ALKITAB milik mama, hal ini di perhatikan oleh bapak. Tepat tanggal 13 februari 2004 (seperti yang di tulis mama di lembar awal ALKITABku) bapak membelikanku ALKITAB tanpa memberi tahu mama dan aku, hal ini sangat membuat aku dan mama terkejut, karena umumnya anak akan mengikuti keyakinan bapaknya. Dengan ALKITAB baru inipun aku belum menemukan APA ITU TUHAN?, minggu demi minggu aku lalui di bangku sekolah minggu dengan hati yang masih hampa.
Saat ini kakakku berada di bali, karena gagal masuk UKDW pada tahun 1998-1999 karena kerusuhan besar di solo yang merembet hingga jogja. Awalnya kakakku sekolah di kampung halaman mama karena tragedy keluarga kami, kakakku di baptis dewasa disana saat duduk di bangku smu. Dengan usulan oma dan bapak, aku dan mama pun terbang ke kupang untuk menjalani baptis, waktu itu aku masih merasakan hal yang bisa seperti saat sebelumnya. Namun semua itu berubah saat pak pendeta JOSEPHUS A. BIAF,S.TH meletakkan air baptisan itu di atas kepalaku tepat pada tanggal 23 oktober 2005 di gereja NARWASTU noelbaki. Tanda Tanya besar yang sejak dulu melekat dalam pikiranku mulai menghilang dan di gantikan oleh tanda tanda Tanya baru “mau apa aku setelah ini ?”. Rasa ingin manjadi garam dan terang mulai terpupuk dalam hatiku, namun belum berbuah apapun hingga aku mulai bergaul dengan “ANAK TUHAN” di SMP tempat aku bersekolah, mereka sama sekali tidak mencerminkan sifat yang bisa memberi taladan bagi orang lain. Pergaulanku mulai kacau, hingga aku mulai mencoba memulai hal yang menurutku jauh dari kata BENAR, aku mulai mengisap rokok bersama kakak sepupuku. Namun itu tak bertahan lama, aku hanya bertahan 1 bulan, itupun tak rutin ku lakukan, waktu itu aku hanya menghabisakan 5-7 batang rokok dalam jangka waktu itu. Setelah menginjak kelas 3 smp aku berjanji dalam diri untuk tidak melalukan hal yang aku rasa salah jika aku bisa lulus smp, namun hal itu tak ku tepati hingga aku berada di jogja saat ini.
Ketika kelas 1 SMU aku mulai berkenalan dengan pemuda gerejaku yang mulai menarikku ke arah yang positif, dan aku mulai mulai tersadar dari mimpi buruk yang konyol ini. Di kelas 3 smu aku mulai tersadar untuk mengikut TUHAN dengan sepenuh hati, dan akupun mengikuti pembelajaran ALKITAB untuk persiapan SIDI, tepat hari jumat agung tanggal 2 bulan april 2010 aku berlutut mengaku dosa dan siap MEMIKUL SALIB HIDUPku sendiri. Yang paling membuatku bahagia, adalah karena bapakku masuk gereja menyaksikan aku di TEGUHKAN di depan seluruh jemaat, walau mungkin hatinya tidak disana namun aku percaya bisa MEMENANGKAN ayahku, bukan karena aku tak menghargai agamanya dan mengatakan agamanya itu buruk, namun lebih karena rasa rinduku akan TUHAN yang mendorongku.
Aku mulai berpikir terbuka untuk menerima kritik dan saran dari orang-orang di sekitarku, dan setiap kali orang bertanya kepada bapakku mengapa aku berbeda keyakinan dengannya, dengan santai ia tersenyum dan menjawab “itu hidupnya, ia sudah dewasa dan mampu menentukan apa yang menrutnya benar”.
Sejak dulu setiap kali mama mengadakan acara kebaktian syukur keluarga, bapak yang selalu lebih sibuk dari kami, mulai dari menyewa bangku,menemani mama belanja, memasang tenda, hingga mengecek semua perlengkapan yang kurang. Saat orang-orang mulai berdatangan untuk mengikuti ibadah, bapak sudah siap di depan pintu dengan setelan batiknya dan senyumnya yang khas menyambut. Ketika tiba saat kolekte dan persembahan syukur keluarga dan kata pembuka, bapak yang pertama kali menyampaikan isi hatinya dan mengisi amplop persembahan. Saat aku ulang tahun, bapak orang pertama yang member kado, ia tak pernah membelikan langsung, aku boleh membeli apapun yang aku mau jika ia mampu membayarnya, dan selalu saja bisa. Pada ulang tahun ke 17ku yang katanya “SWEET” bapak menghadiahkanku sim C dan sebuah helm standar, sedangkan mama memberiku motor shogun SP plus helm master. Tak lupa bapak dan mama juga memberikan hadiah yang menurutku tak perlu, mereka mengumpulkan gaji untuk membelikanku sebuah laptop untuk menggantikan laptop tuaku yang kini di pakai oleh mama untuk mengerjakan laporan hasil mengajar dan menyusun bahan ajarnya.
Saat ini aku begitu mengidolakan bapak dan mamaku, hingga tak heran inbox handphoneku di penuhi oleh sms mereka. Walau harus di ledek oleh teman-temam dengan sebutan “anak mami” namun aku enjoy saja dengan hidupku. Aku kini telah berubah dan 97% terbebas dari pengaruh buruk yang sejak dulu menggangguku.
Aku punya satu tekat yang menurut teman-teman bodoh dan tak berguna, aku menantang teman-teman membaca habis ALKITAB dari kejadian hingga wahyu, tak perlu terburu-buru dan memaksakan diri, yang penting niat yang tulus dalam hati. Hingga saat ini aku belum mengerti apa rencana TUHAN yang tertanam dalam hatiku ini, namun aku percaya rencana-Nya akan indah pada saatnya.
I Made Ronny Agastiya
update
ini dia bapakku